Tampilkan postingan dengan label tips desain. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tips desain. Tampilkan semua postingan

Minggu, 31 Juli 2011

10 Tipe Klien yang "Nakal"

Hai Sobat Bloggers, kali ini saya akan mencoba membahas mengenai tipe-tipe klien yang dianggap memiliki sifat "nakal", khususnya bagi Anda yang baru memulai berkecimpung di dunia freelance. Okay Sobat Bloggers mari kita kenali 10 tipe klien "nakal" tersebut.

1. Klien yang Selalu Meminta "Free Sample"
Tipe Klien seperti ini biasanya akan meminta contoh desain yang orisinil terlebih dahulu, bahkan sebelum terjadi kesepakatan pekerjaan. Hal semacam ini perlu kita waspadai karena bisa saja hal tersebut merupakan cara klien untuk mendapatkan desain secara cuma-cuma. Menurut saya dari sudut pandang klien memang tidak bisa dipungkiri jikalau klien ingin melihat draft desain kita, namun kita memiliki portofolio karya desaon yang pernah kita kerjakan sebelumnya, yang berfungsi sebagai galeri contoh. Jadi sebenarnya kita tidak wajib membuatkan klien contoh desain untuk proyek yang akan dikerjakan, kita cukup menunjukkan portofolio kita saja bukan? ;)

2. Klien yang Memberi Penambahan Brief
Tipe Klien seperti ini biasanya akan memberikan brief proyek yang kita anggap pengerjaan desainnya cukup ringan, dengan demikian kita akan mengajukan rincian biaya yang adil juga (biasanya kecil). Ketika masalah harga telah disetujui, biasanya klien akan memberikan brief-brief pekerjaan tambahan di tengah-tengah pengerjaan, dengan alasan lupa bahwa detail pengerjaan meliputi hal-hal lain. Intinya adalah bahwa klien akan mencoba mendapatkan kuantitas pengerjaan yang lebih banyak dengan harga desain pada pengajuan awal yang telah disetujui bersama.
 
3. Klien yang Bingung
Tipe Klien seperti ini biasanya memiliki banyak sekali visi terhadap desain yang akan dibuat. Biasanya klien tersebut akan berbicara, "Saya akan tahu desain yang cocok jika nanti saya sudah melihatnya". Hal tersebut sangat dapat menyulitkan kita sebagai desainer, karena apa yang ada di benak sang klien sulit ditebak, ia akan sulit untuk merasa puas. Sehingga jadwal kerja desain yang telah disepakati serta efort kerja kita akan otomatis lebih besar. Dan belum tentu setelah kita penuhi permintaan klien, ia akan merasa cocok dan puas dengan desain kita :D

4. Klien yang Hanya Minta Tolong
Tipe Klien seperti ini biasanya memberikan kesan bahwa proyek yang akan dikerjakan seakan-akan memiliki nilai tinggi dan hebat. Namun biasanya juga dari pembicaraan akan mudah diketahui bahwa ujung-ujungnya klien kita ini hanya membutuhkan pertolongan kita untuk membuat desain secara gratis. Ya, sebenarnya yang klien ini butuhkan adalah desainer yang berpredikat juga sebagai pekerja sukarela :))

5. Klien yang Super Sibuk
Tipikal Klien seperti ini biasanya sangat sibuk, sulit dihubungi, sulit ditemui dan kalaupun kita sudah sepakat untuk bertemu biasanya beliau selalu membatalkan dan mengundur pertemuan tersebut dengan berbagai alasan. Namun jangan kaget jika sewaktu-waktu beliau tiba-tiba bertanya mengenai progres desain kita. Tipe klien seperti ini saya anggap sebagai klien yang kurang menghargai perusahaannya sendiri. Sebab pekerjaan yang diberikan kepada kita tidak dianggap sebagai prioritas, padahal proyek tersebut beliau butuhkan untuk dirinya atau perusahaannya sendiri bukan?

6. Klien yang Posesif
Kebalikan dari Klien yang super sibuk, tipe klien ini biasanya sangat-sangat posesif. Beliau selalu "hadir" menghubungi kita hampir setiap saat. Menelepon, mengirim email bahkan kalau bisa beliau akan menunggui kita mengerjakan desain langsung bersamanya. 

7. Klien yang Selalu Merevisi
Nah menurut saya tipe klien yang satu ini paling sering ditemui. Biasanya klien tersebut akan selalu memberikan revisi terhadap desain kita. Baik mulai dari tahap konsep, desain draft awal, bahkan ketika desain sudah masuk ke tahap final desain (Final Artwrok), beliau akan terus melakukan revisi. Dan hal-hal yang direvisi seringkali dimulai dari bobot desain yang dianggap sepele (tidak direvisi juga tidak apa-apa / mengada-ngada) hingga hal-hal yang memang harus direvisi. 

Menurut saya, mungkin tindakan klien ini disebabkan oleh: beliau tidak percaya terhadap kemampuan kita sebagai desainer; beliau merasa desain kita selalu buruk sehingga tidak sesuai dengan apa yang ada dibenaknya; klien merasa bingung karena terlalu banyak ide-ide yang bermunculan di benaknya  (poin 3 diatas); atau bahkan beliau terus menerus melakukan revisi berdasarkan hanya ingin menunjukkan siapa yang berkuasa (konsumen adalah raja). Hal ini bisa dicegah jika kita secara jelas memberikan ketentuan mengenai jumlah maksimal revisi desain ketika kita mengajukan anggaran biaya awal ;)

8. Klien yang Senang Bergosip
Kedekatan kita dengan klien memang penting, tapi sebaiknya dilakukan masih dalam tahap profesionalisme kerja saja. Tipe Klien yang senang bergosip biasanya akan memberitahu kepada kita mengenai keburukan atau kekurangan dari atasan, rekan kerja bahkan desainer sebelumnya yang beliau pernah kontrak. Ikut-ikutan bergosip bahkan terlalu terbuka membeberkan tentang kekurangan kita sebaiknya dihindari, karena ada kemungkinan beliau juga akan bergosip tentang diri kita kepada orang lain, iya kan? :)

9. Klien yang Sulit Membayar
Tipe Klien seperti ini biasanya nampak seperti klien normal pada umumnya, sampai saat dimana surat penagihan biaya dikirmkan kepada beliau. Biasanya beliau akan memberikan berbagai macam alasan untuk tidak membayar tepat waktu. Misalkan uang anggaran desain belum turun, atau terpakai dulu untuk keperluan lain yang lebih darurat. Apapun alasan yang beliau berikan sebaiknya kita tetap sabar dalam melakukan "follow up" penagihan dengan kepala dingin dan bukan dengan emosi. Untuk mengurangi resiko seperti ini ada baiknya dalam surat perjanjian kerja sama, kita mencantumkan ketentuan bahwa pembayaran desain dibagi ke dalam tiga tahap (misalkan). Tahap pertama untuk tanda jadi (down payment), tahap kedua ketika pengerjaan desain sudah memasuki tahap X% dan pembayaran ketiga dilakukan ketika desain sudah dianggap final (final artwork).

10. Klien yang Menekan Harga 
Tipe klien demikian sering kita temui, biasanya beliau akan menekan, menawar bahkan membandingkan biaya proyek yang kita dengan desainer lain. Biasanya jawaban umum yang dapat kita berikan jika beliau membandingkan dengan desainer yang lebih murah adalah, "Jika Anda menemukan seseorang yang dapat mengerjakan desain tersebut dengan harga yang lebih murah, silakan Anda pesan desain ke orang tersebut" :))

Okay Sobat Bloggers, tadi kita sudah mengetahui beberapa tipe klien dengan sifat-sifatnya, berikut ini adalah beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengatasi Klien yang "Nakal" tersebut:
1. Sebaiknya kita mengetahui secara pasti terlebih dahulu siapa klien kita. Kita dapat mencari informasi tersebut dari rekan sesama desainer yang sudah terlebih dahulu bekerja dengan klien tersebut. 
2. Sebaiknya semua kebutuhan desain kita diskusikan terlebih dahulu sebelum kita dan klien sepakat menandatangani surat perjanjian kerjasama.
3. Jujur pada diri sendiri, jangan menerima proyek dari klien hanya berdasarkan keputusasaan kita semata.
4. Ikuti kata hati kita, jangan menerima proyek jika kita memiliki perasaan yang tidak enak terhadap klien tersebut.
5. Perhatikan dengan seksama setiap kemauan klien, kita bisa menangkap sinyal-sinyal tipe klien di atas hanya dari pembicaraan kita dengan klien.

Bagaimana dengan Anda, Sobat Bloggers? Apakah Anda memiliki pengalaman "unik" dengan klien-klien diatas? atau masih adakah tipe klien lainnya yang belum saya sebutkan diatas? atau mungkin Anda adalah salah satu klien diatas? silakan share disini ya ;)

Senin, 20 Juni 2011

50 Logo Top di Dunia

Hai Sobat Bloggers, kali ini kita akan coba melihat bahwa ada 100 logo di dunia ini yang dikategorikan sebagai logo-logo papan atas, menurut versi Bloomberg Businessweek (sumber). Namun pembahasan kali ini hanya akan menampilkan 50 logo teratas saja (ditampilkan berdasarkan ranking).


Coca-Cola, Microsoft, IBM, GE, Intel, Nokia, Walt Disney, McDonald’s, Toyota, Marlboro, Mercedes-Benz, Citi, Hewlett-Packard, American Express, Gillette, BMW, Cisco, Louis Vuitton, Honda, Samsung, Dell, Ford, Pepsi, NescafĂ©, Merrill Lynch, Budweiser, Oracle, Sony, HSBC, Nike, Pfizer, UPS, Morgan Stanley, JPMorgan, Canon, SAP, Goldman Sachs, Google, Kellogg’s, Gap, Apple, Ikea, Novartis, UBS, Siemens, Harley-Davidson, Heinz, MTV, Gucci and Nintendo.


(Klik gambar untuk memperbesar)


Dari ke lima puluh logo diatas, ternyata ada data statistik menarik yang terungkap, antara lain:
  • Terdapat sebanyak 94% nama logo tidak mencerminkan apa yang dijual oleh perusahaannya
  • Terdapat sebanyak 90% logo yang tidak menggunakan tagline "oleh" atau "by"
  • Terdapat 84% logo menggunakan jenis huruf yang berkarakter bersih dan jelas
  • Logo yang hanya menggunakan satu warna saja berjumlah 74% (hitam-putih tidak dianggap sebagai warna dalam konteks ini) >> baca lebih lanjut mengenai "apakah hitam-putih adalah warna?"
  • Terdapat 74% logo yang hanya menggunakan huruf saja tanpa gambar
  • Terdapat 72% nama logo yang dibuat dari singkatan atau akronim
  • Desain logo yang menggunakan bentuk persegi panjang sebanyak 66%
  • Desain logo yang menyertakan "TM" atau Trade Mark terdapat sebanyak 54% dan menempatkannya di pojok kanan atas sebanyak 48%
  • Terdapat 52% logo dengan penggunaan nama sebanyak enam huruf atau kurang 
  • Penggunaan nama pada logo dengan penggabungan huruf besar dan kecil terdapat sebanyak 44% (akronim tidak dihitung)
  • Menggunakan warna background yang solid sebanyak 52%
  • Logo yang pengucapannya mencakup tiga suku kata terdapat sebanyak 44%
  • Logo yang menggunakan warna biru sebagai warna utamanya terdapat sebanyak 40%

Nah Sobat Bloggers, semoga kita bisa mengambil pelajaran dari data statistik milik logo-logo top di dunia yah :)

Oiya Sobat Bloggers, seberapa banyak Anda bisa mengenali gambar logo-logo perusahaan diatas? :D




sumber: disini

5 Prinsip Desain Logo yang Efektif

Halo Sobat Bloggers, sekarang kita akan coba membahas mengenai prinsip-prinsip desain dalam merancang logo. Sebuah logo yang baik adalah logo yang memiliki ciri khas, tepat, praktis, sederhana dan dapat menyampaikan pesan yang dimaksudkan. Dalam merancang logo yang efektif, sebaiknya kita tidak melupakan beberapa prinsip perancangan.

1. Sederhana (Simple)
Logo yang sederhana memungkinkan untuk lebih mudah diingat dan digunakan secara serbaguna. Logo yang sederhana tersebut dapat dimunculkan secara unik tanpa harus digambarkan berlebihan.
  
2. Mudah Diingat (Memorable)
Prinsip berikutnya masih berhubungan dengan prinsip kesederhanaan, yaitu bahwa sebuah logo harus mudah diingat. Cara mewujudkannya kembali lagi pada poin bahwa logo tersebut harus sederhana dan tepat sasaran.

3. Kekal (Timeless)
Logo yang baik haruslah tak lekang oleh waktu (kekal atau abadi). Yang menjadi pertanyaan adalah "Apakah logo tersebut masih efektif dalam jangka waktu 10, 15, 20 tahun mendatang?" Contoh yang dapat ditampilkan disini adalah perbandingan efektivitas logo Pepsi Cola dan Coca Cola. Dimana logo Coca Cola belum pernah diganti semenjak tahun 1885.

4. Serbaguna (Versatile)
Logo yang baik haruslah dapa diaplikasikan dalam berbagai macam media. Biasanya logo dibuat dalam format vektor (bukan bitmap) dengan tujuan agar logo tersebut dapat disesuaikan ke dalam berbagai ukuran. Untuk melakukan pengecekan terhadap logo yang kita buat, kita bisa menanyakan beberapa hal ini ke diri kita masing-masing:
  • Apakah logo tersebut dapat dicetak dengan satu warna?
  • Apakah logo tersebut masih jelas ketika dicetak di media seukuran perangko?
  • Apakah logo tersebut dapat diaplikasikan pada media sebesar papan billboard?
  • Apakah logo tersebut dapat diterapkan pada bidang inverse (kebalikan)? misalkan warna background gelap.
Cara untuk mendapatkan logo yang serbaguna adalah membuat desain logo tersebut dengan warna hitam-putih saja. Hal ini akan membuat kita memusatkan perhatian hanya pada bentuk dan konsepnya saja, bukan bertumpu pada pengolahan warna. Oiya sebaiknya Sobat Bloggers menggunakan panduan warna Pantone dalam merancang warna pada logo Anda.

5. Sesuai (Appropiate)
Prinsip terakhir dalam merancang logo adalah kesesuaian logo dengan tema yang dikerjakan. Ya, dengan kata lain yang dimaksud disini adalah kesesuaian karakter atau citra antara visual logo dengan konsep perusahaan. 

Ada pula sebuah pernyataan yang mengatakan bahwa sebuah logo perusahaan tidak harus selalu memiliki visual produk yang mereka jual. Sebagai contoh perusahaan mobil tidak harus memvisualkan gambar mobil, perusahaan komputer tidak harus memunculkan gambar komputernya, atau Harley Davidson tidak menampakkan motor pada logonya, Nokia tidak memunculkan gambar telepon selular pada logonya, perusahaan Apple Inc tidak memasang gambar komputer juga pada logonya, bukan?

Baca juga disini mengenai pembahasan berbagai logo perusahaan yang tidak menampilkan apa yang dikerjakan oleh perusahaannya :D

Bagaimana menurut Anda, Sobat Bloggers? menurut Anda apakah ada prinsip-prinsip lain yang dapat membuat sebuah logo menjadi logo yang efektif? :)






sumber: justcreativedesign.com

Sabtu, 18 Juni 2011

5 Tips Menentukan Tipografi pada Desain

Halo Sobat Bloggers, kali ini kita akan coba membahas tentang cara menentukan huruf yang sesuai pada desain yang kita buat. Okay, saya akan mencoba menjabarkan apa-apa saja yang harus kita lakukan:

1. Berkenalan dengan Huruf
Sebelum kita masuk ke perancangan, kita harus (setidaknya) mengenal jenis-jenis huruf yang ada, lalu mengenal karakteristik huruf tersebut (berhubungan dekat dengan no.2 dibawah). 

Umumnya, huruf yang ada menyebar dimana-mana digolongkan menjadi empat jenis kelompok besar. Golongan-golongan tersebut adalah huruf yang memiliki kait di setiap ujungnya (Serif), huruf tanpa kait di setiap ujungnya (Sans Serif), huruf dengan struktur menyerupai tulisan tangan (Script) dan huruf yang dihias (Decorative). 


Contoh huruf-huruf Serif : Times New Roman, Bodoni, Book Antiqua, Bookman Old Style, Cambria dan lain sebagainya.
G.01 Times New Roman
G.02 Bodoni MT
G.03 Book Antiqua
G.04 Bookman Oldstyle
G.05 Cambria

Contoh huruf-huruf Sans Serif : Arial, Calibri, Helvetica, Trebuchet, Verdana, Avant Garde, Century Gothic, Myriad Pro dan lain sebagainya.
G.06 Arial
G.07 Calibri
G.08 Helvetica
G.09 Trebuchet
G.10 Verdana

Contoh huruf-huruf Script : Brush Script, Edwardian Script, Script MT (Bold), English111 Vivace BT, Lucida Blackletter, Lucida Handwriting dan lain sebagainya.
G.11 Brush Script MT (Bold)
G.12 Edwardian Script
G.13 English111 Vivace BT
G.14 Lucida Blackletter
G.15 Lucida Handwriting


Contoh huruf-huruf Decorative: Babby Kruffy, Batman Forever, Ransom, Broadway, Cheatin, Chicken Scratch, Crass, Curlz MT dan lain sebagainya.
G.16 Baby Kruffy
G.17 Batman Forever
G.18 Ransom
G.19 Chicken Scratch
G.20 Crass
G.21 Curlz MT
Okay, sekarang kita sudah mengetahui tiap-tiap jenis huruf dikelompokkan berdasarkan penampilan fisiknya (struktur), sekarang kita akan mencoba berkenalan dengan sisi kepribadiannya (karakternya). Ya, benar huruf juga sama seperti kita punya karakteristik yang khas dan berbeda dengan huruf lainnya. Karakter merupakan citra, kesan, sifat yang dimiliki sebuah huruf. Secara umum, faktor yang paling mempengaruhi karakter tersebut adalah struktur huruf (bentuknya), sisanya dapat diperkuat dari warna, ukuran dan posisi dimana huruf-huruf nantinya ditempatkan dalam bidang desain. Keseluruhan faktor tersebut diatas nantinya akan ditentukan dengan pengalaman visual kita. Maksudnya, jika kita tidak punya referensi dan kepekaan terhadap suatu karakter, maka kita kesulitan dalam memaknai karakter huruf yang dimaksud. Untuk lebih jelasnya mari kita sama-sama lihat contoh berikut ini.
G22. Font dengan karakteristik tertentu
Gambar G.22 memiliki nama font 'Adventure', namun tanpa melihat nama hurufnya, kita dapat merasakan citra yang muncul dari bentuk huruf tersebut bukan? Saya pribadi sependapat bahwa citra atau karakter yang dimiliki font tersebut adalah "aksi dan petualangan". Pernyataan saya tersebut (mungkin Anda juga) mungkin didasari oleh pengalaman visual kita di masa lalu.
G.23 Film yang menjadi referensi visual kita
Begitu kuatnya karakter dan citra film Indiana Jones ini, sehingga ketika kita melihat jenis font 'adventure' diatas, maka pikiran kita akan secara otomatis mengacu kepada "aksi petualangan" atau film Indiana Jones-nya itu sendiri.


Saya rasa penggunaan jenis font (warna dan skala) judul film pada gambar G.23 sudah sangat tepat. Kita bisa rasakan perbedaan citra atau karakter yang muncul jika jenis hurufnya kita ganti seperti pada gambar G.24 dibawah ini.
G.24 Perubahan citra yang diakibatkan perubahan jenis huruf
  
Ya, kita bisa merasakan dengan pasti kan, kalau penggunaan jenis huruf pada gambar G.24 justru mengurangi citra petualangannya. Itu karena kita sudah "sepakat" bahwa karakter Indiana Jones adalah Adventure dan citra Adventure tersebut diwakili oleh jenis huruf adventure pada gambar G.22 bukan? semoga Sobat Bloggers tidak bingung yah :D

G.25 Mana saja citra yang cocok? (klik gambar untuk memperbesar)
Gambar G.25 menunjukkan bahwa dalam mengungkap sebuah citra, persepsi huruf dapat berbeda, tergantung konteks bentuk hurufnya. Misalkan kata "Gagah Berani" pada kolom kiri baris pertama dengan pada baris ke-enam mungkin konteksnya berbeda jaman atau waktu. 

Baris pertama mengisyaratkan citra gagah berani milik tentara, namun baris terakhir mencitrakan gagah berani para koboi di daerah Barat. 
Dengan melihat beberapa contoh  diatas dengan menggunakan berbagai jenis huruf, kita dapat menilai jenis huruf mana yang cocok dipasangkan dengan kata "GAGAH BERANI" tersebut :)


Sebenarnya kita bisa belajar melalui melihat contoh-contoh nyata yang ada di sekitar kita. Dengan melihat contoh-contoh tersebut lambat laun kita akan belajar menajamkan indera perasaan kita, sehingga nantinya kita bisa dengan cepat merasakan "pas" atau tidaknya sebuah penggunaan jenis huruf pada sebuah desain. Dengan kata lain, kita harus lebih peka melihat citra tipografi dalam setiap aplikasi desain seperti pada reklame, billboard, spanduk, kemasan, logo dan lain sebagainya.



2. Kenali Masalahnya
STOP! Anda jangan buru-buru menyalakan laptop atau komputer apalagi membuka program pengolah vektor (Adobe Illustrator atau CorelDraw). Menurut saya ini adalah salah satu kelemahan desainer, yaitu kita terlalu bersemangat menuangkan gagasan-gagasan di kepala kita dengan menggunakan bantuan piranti komputer. 


Kelemahan yang saya maksudkan adalah dengan langsung membuat desain di komputer, akan menjerumuskan dan mengaburkan visi gagasan yang sudah kita miliki sebelumnya. Ibaratnya kita sudah punya imajinasi font yang cocok, namun di komputer kita akan bertemu beribu-ribu font - setelah kita melihat semua font di komputer dengan harapan akan menemukan font yang cocok, alih-alih kita akan terjebak dan kebingungan sendiri akan menggunakan font yang mana. Hal itu diakibatkan karena kita tidak memiliki jalur konsep, sehingga kita dengan mudah kehilangan arah (visi gagasan).
Kita seringkali terlena bahwa desainer yang baik adalah desainer yang menguasai keahlian komputer. Memang demikian, namun keahlian komputer BUKAN yang utama. 


Menurut saya hal yang terutama adalah bagaimana cara kita memahami permasalahan yang hendak kita hadapi dan berpikir mengenai konsep serta pemecahan masalah tersebut. Ya, langkah awal untuk mewujudkan hal tersebut adalah dengan menuliskan semua pemikiran Sobat Bloggers di atas kertas (mind mapping) langkah selanjutnya adalah melakukan riset tentang masalah yang sedang dihadapi. Dari dua langkah tadi, kita dilatih untuk menjadi lebih mengenal permasalahan dan lebih dekat dengan solusinya. Okay, mungkin Anda sedikit bingung membaca penjelasan saya ini. Saya akan coba berikan contoh:


Misalkan kita diminta untuk membuat sebuah poster film dengan tema horror tradisional mencekam yang berasal dari suatu daerah di Propinsi Jawa Barat, dengan setting waktu sekitar tahun 1980an. Setelah mengetahui gambaran umum masalahnya, kita jangan buru-buru memilih huruf yang akan dipakai di komputer. Mungkin di pikiran kita sudah memiliki gambaran jenis huruf yang terasa cocok dengan tema film tersebut, namun secara khusus permasalahan bertumpu pada budaya daerah tertentu dan pada masa waktu tertentu pula. 
G.26 Mind mapping tetap gunakan media tulis jangan menggunakan software mind mapping di komputer


Dengan demikian langkah pertama adalah: Mind Mapping, tuliskan semua hal-hal atau gagasan yang berkaitan dengan topik tersebut, tuliskan apa saja - jangan ragu-ragu pokoknya Anda tuliskan semua yang terlintas di benak Anda. 


G.27 Riset merupakan koridor Anda dalam membangun konsep
Langkah kedua adalah Melakukan Riset. Anda bisa membaca buku, mengobrol dengan para pakar atau narasumber, budayawan, Anda bisa mendatangi perpustakaan setempat dan membaca mengenai literatur budaya atau dokumentasi setempat dan lain sebagainya. Seperti telah dijelaskan di atas, maksud dari kedua langkat ini adalah supaya Anda semakin mengenal dan memahami duduk perkara permasalahan dengan demikian harapannya Anda akan semakin dekat dengan titik terang rancangan desain poster film horror tersebut.


Semakin Anda mengenali permasalahannya (contoh film horror diatas) maka semakin tajam juga konsep yang akan Anda buat. Misalkan dengan memahami jalan cerita atau naskah filmnya, kita tidak mungkin "memukul rata" semua film horror indonesia menggunakan jenis huruf yang berdarah-darah dan menetes. Kenapa? karena belum tentu film tersebut mengutamakan "darah-darah"nya tadi.. iya kan? :)

3. Jangan Cepat Puas
Okay, tips selanjutnya yang menurut saya perlu dibahas disini adalah perasaan jangan cepat puas. Maksudnya bisa secara konseptual maupun eksekusi pembuatan visual desain. Kita sebaiknya terus-menerus menggali dan mengembangkan gagasan secara konsep, karena nantinya konsep tersebut yang akan dipakai sebagai acauan untuk membuat visual. Dan setelah kita membuat visual, jangan terlalu cepat puas juga. Biasakan membuat alternatif desain yang banyak, karena biasanya visual pada tahap-tahap awal masih merupakan ide atau gagasan "pemanasan". Maksudnya gagasan yang juga terpikirkan oleh orang lain. Jadi teorinya, semakin kita menggali serta mengembangkan gagasan maupun teknis visual kita, maka akan semakin unik desain yang kita buat. 


Ya, jangan lupa bahwa desain grafis itu sangat dinamis, maksudnya adalah banyak hal yang bisa kita ubah menjadi alternatif desain yang berbeda. Hal tersebut adalah elemen desain itu sendiri seperti ukuran, bentuk, warna, layout dan lain sebagainya. Pembahasan khusus mengenai elemen desain grafis beserta prinsip-prinsipnya bisa Anda baca disini ;) 

4. Jangan Malas
Ya, siapapun pasti pernah terserang oleh perasaan malas. Rasa malas kadang sulit sekali untuk dilawan, alhasil kita akan mengambil jalan cepat atau jalan mudahnya saja, yaitu ya.. desain yang seadanya.


Kalau kita dituntut untuk menghasilkan karya desain yang profesional, maka mau tidak mau kita harus mampu mengatasi masalah yang satu ini. Kunci untuk melawan rasa malas tersebut adalah motivasi diri, pikirkan apa yang dapat memotivasi Anda untuk tetap maju melakukan riset di luar kota, membuat berbagai macam alternatif desain, mengembangkan gagasan, mencari sumber-sumber referensi desain, mencari jenis-jenis font di komputer dan lain sebagainya.



5. Batasi Diri!
Ya, poin nomor 5 ini adalah kebalikan dari nomor 4 diatas. Biasanya kita terlalu bersemangat mendesain, dalam hal ini konteksnya memilih jenis huruf. Dikarenakan terlalu bersemangat memilih dan memilah berbagai jenis huruf, kita seringkali lupa bahwa pada halaman desain yang kita buat, dibangun dari banyak sekali jenis huruf yang berbeda. 


Umumnya kita mempertimbangkan jumlah jenis huruf yang akan ditampilkan, apalagi jenis-jenis huruf tersebut berasal dari kelompok yang berseberangan (Serif, Sans Serif, Script dan Decorative). Apabila hal ini tetap dipaksakan, maka visual desain kita akan menjadi tidak enak dipandang. Karena kita harus tetap ingat, bahwa elemen desain yang digunakan tidak hanya huruf saja, mungkin masih ada foto, ilustrasi, bentuk-bentuk organik-geometrik, permainan warna, ukuran dan lain sebagainya. 


Sebaiknya gunakan maksimal dua jenis huruf yang berbeda, tapi kalau memang dibutuhkan sekali, ya tiga juga tidak apa-apa (deh) :p
Tipsnya adalah gunakan sedikit jenis huruf, namun manfaatkan keluarga huruf tersebut (family type). Misalkan untuk pesan utama gunakan Arial Black dengan ukuran maksimal 24pt, untuk sub-pesan utama tersebut kita bisa gunakan Arial (Bold) 14pt, untuk isi teks kita bisa gunakan Arial (Regular) 12 point dan sebagainya.


Perlu diingat bahwa desain yang terlalu memaksakan semua unsur desainnya untuk muncul akan mengakibatkan informasi dan komunikasi yang hendak disampaikan  menjadi tidak jelas sehingga sulit diterima oleh audience




Bagaimana Sobat Bloggers? Apakah Anda memiliki tips lain untuk menggunakan huruf atau tipografi dalam visual desain Anda? silakan share disini ya ;)


-------

>> Referensi untuk download huruf gratis:

www.dafont.com
www.1001freefonts.com
www.urbanfonts.com
www.showfont.net
www.fontstock.net
www.fontspace.com

Rabu, 08 Juni 2011

10 Tips Mendesain Kartu Nama

Dalam merancang desain kartu nama untuk keperluan bisnis, baik perusahaan maupun perorangan ada baiknya kita simak beberapa tips berikut ini ;)

1. Manfaatkan kedua sisi. Apabila muatan informasi yang hendak Sobat bloggers sampaikan dalam kartu nama tersebut terlampau banyak, sebaiknya jangan memaksakan untuk memadatkan semua informasinya di satu sisi saja. Informasi pendukung seperti foto lokasi atau produk, jenis-jenis keahlian yang ditawarkan, mungkin testimoni dari klien yang berpotensi dan sebagainya bisa kita tampilkan di sisi belakang kartu nama kita :)

2. Karakter. Kartu nama harus mencerminkan serta merepresentasikan diri Anda atau perusahaan Anda. Sebaiknya gali dan temukan jati diri atau karakteristik Anda / Perusahaan sebaik mungkin. Karena karakteristik tersebutlah yang akan nantinya dipakai untuk membangun elemen-elemen visual yang ada di dalam kartu nama Anda.Intinya ketika klien melihat-lihat kembali kartu nama Anda di kantornya atau di rumahnya, beliau akan dengan segera mengingat Anda atau perusahaan Anda. 


3. Buatlah terlihat. Seringkali kita melihat seluruh informasi dalam satu sisi kartu nama "saling berteriak" pertanda ingin diliha duluan. Memang seluruh informasi yang hendak ditampilkan di dalam kartu nama merupakan informasi yang dianggap penting semua, namun semuanya itu tidak perlu sama-sama "berteriak" sama kerasnya meminta perhatian klien. Alih-alih klien yang membacanya akan menjadi bingung, harus melihat informasi yang mana terlebih dahulu.

Sebaiknya informasi-informasi tersebut disusun berdasarkan prioritasnya. Inti dari kartu nama adalah agar rekan bisnis bisa menghubungi Anda, baik melalui email, telepon seluler, telepon kantor dan sebagainya. Dari sekian banyak nomor telepon yang akan ditampilkan, kita tidak perlu membuat semuanya bold dan besar. Cukup salah satu saja, misalkan nomor telepon selular yang paling besar dan bold, karena rekan bisnis tidak mungkin menelepon ke kantor Anda ketika weekend atau dini hari. Ya, karena mungkin Anda tidak berada di kantor saat itu.

4. Tonjolkan Bidang Keahlian Kita. Poin yang hampir sama dengan tips nomor 3 diatas, yaitu tonjolkan bidang pekerjaan atau keahlian kita dengan jelas. Pilihlah kalimat yang singkat, padat dan jelas. Misalkan "Professional Creative Designer & Animator" atau "Guru Les Privat Berkualitas" atau "Marketing is my Way of Life" dan lain sebagainya. "Tag-line" yang menerangkan apa yang kita kerjakan tersebut mungkin paling sesuai jika ditempatkan di dekat area nama kita. Sehingga antara nama kita dan apa yang kita kerjakan akan saling memperkuat satu sama lain.

5. Tanamkan Manfaat di Benak Klien. Hampir sama dengan tips nomor 4 diatas, namun kini yang lebih diutamakan adalah manfaat atau keuntungan yang didapat dari kerja sama antara klien dan kita selaku desainer. Disini yang kita jual adalah aspek profesionalitas kita, itu berarti faktor kepercayaan dan nama baik kita dipertaruhkan. Sebaiknya Anda mempertimbangkan dengan pasti apa yang hendak Anda sampaikan di poin ini. Jangan sampai kata-kata yang Anda janjikan menjadi bumerang bagi usaha Anda. Misalkan jangan menggunakan kata "...selalu tepat waktu" kalau Anda tidak yakin bisa tepat waktu, atau jangan menggunakan kata "...pekerjaan kami akan membuat Anda puas", disini kita tidak bisa mengukur variabel kepuasan klien, karena kepuasan bersifat subjektif. Jadi, hati-hati akan apa yang Anda janjikan kepada klien yah :)

6. Jangan Bunuh Arus Informasi. Dalam membuat kartu nama, muatan informasi seperti alamat email atau website tetap wajib Anda cantumkan, jangan sampai salah menuliskan setiap detail yang bersangkutan dengan informasi tersebut ya. Misalkan anda salah menuliskan alamat email yang seharusnya menggunakan "underscore _" ditulis dengan menggunakan "dash -" atau ekstensi area negara email Anda misalkan seharusnya @yahoo.co.id ditulis menjadi @yahoo.com. 
Oiya sedikit saran dalam penulisan alamat email dan website, sebaiknya jangan menggunakan penyedia email atau nama domain web gratis, karena kurang menunjukkan keprofesionalan dan kemapanan perusahaan Anda 

7. USP, adalah Unique Selling Proposition. Yaitu sebuah pernyataan tentang siapa kita dan mengapa berbeda dengan kompetitor kita. Hampir sama dengan poin nomor 4 dan 5, bahwa kita harus bisa menjual siapa diri kita sebenarnya dan mengapa klien akan sukses bekerja sama dengan kita.

8. Logo. Sertakan logo usaha Anda, sebab logo adalah identitas yang mewakili perusahaan atau jenis usaha Anda. Logo yang baik akan dengan mudah melekat di dalam benak calon klien. 

9. Inovasi. Gunakan bentuk kartu nama yang berbeda dari yang pernah ada, tapi tetap juga disesuaikan dengan citra atau karakter usaha kita. Jangan sampai Anda terlalu memaksakan karena ingin dianggap unik, misalkan menggunakan gambar garis-garis halaman sebuah notes buku, kemudian semua tulisannya menggunakan jenis huruf "script" dan berwarna-warni padahal usaha yang Anda geluti adalah dalam bidang hukum, Anda adalah pengacara. Desain seperti itu akan membuat calon klien memiliki persepsi berbeda dari yang Anda harapkan, bukan?

10. Distribusi. Sebaik apapun kartu nama yang kita buat, jika tidak pernah di distribusikan dengan baik, maka akan percuma saja. Klien tidak pernah mengetahui keberadaan kita. Kita bisa menyebarkan kartu nama dimanapun dan kepada siapapun, namun yang perlu diingat adalah kita harus menyebarkan kepada orang dan di tempat yang tepat pula. 

Sebagai langkah awal Anda bisa menitipkan setumpuk kartu nama Anda di tempat-tempat umum yang sering dikunjungi orang, seperti binatu, rumah makan, kafe, studio musik, tempat pengiriman paket dan sebagainya. Atau Anda bisa menyertakan dalam proposal, CD atau bahkan dalam kemasan produk yang Anda jual.


Bagaimana Sobat bloggers? Apakah Anda punya tips lain dalam merancang desain dan strategi penyebaran kartu nama yang sukses?


disunting dari sumber
Old Post ►
 

Copyright 2012 ILMU DESAIN GRAFIS: tips desain Template by Bamz | Publish on Bamz Templates